Dokter Tifa Ungkap Label Gibran Ngantukan Jauh Lebih Baik Dibanding Ptosis, Ini Penjelasannya

GELORA.CO -- Dokter sekaligus pakar neuroscience behavior yang juga epidemiolog dr Tifauzia Tyassuma atau dokter Tifa, melontarkan pernyataan kontroversial terkait Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang disebut komika Pandji Pragiwaksono memiliki mata ngantukan dalam materi lawakannya. Dokter Tifa menyinggung perdebatan seputar istilah 'ngantukan' yang diucapkan komika Panji Pragiwaksono atas mata Wapres Gibran, dengan istilah medis 'ptosis' yang sempat diungkapkan dokter Tompi dan ramai diperbincangkan publik. Menurut dokter Tifa, label 'ngantukan' yang dikatakan Pandji justru lebih ringan dibandingkan penyebutan ptosis, yang dalam dunia medis memiliki implikasi lebih serius. Ia menegaskan bahwa dalam pendekatan Evidence Based Medicine (EBM), ptosis tidak sekadar persoalan kelopak mata turun, melainkan bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu. “Lebih baik dikatain ngantukan dong daripada ptosis,” tulis dr Tifa dalam pernyataan di akun X-nya @DokterTifa, Kamis (8/1/2026). Dokter Tifa menjelaskan sejumlah penelitian berbasis bukti ilmiah menunjukkan adanya keterkaitan antara ptosis dengan masalah dan gangguan yang lebih serius. "Evidence Based Medicine, basis bukti ilmiah yang jadi rujukan dokter seluruh dunia membuktikan, bahwa ptosis berhubungan dengan gangguan mental, depresi, bipolar, scizopenia, dan penggunaan psikotropika atau narkoba," kata dokter Tifa. Menurut Dr Tifa riset tersebut melibatkan lebih dari 4.000 subjek, yang menurutnya membuat temuan tersebut sangat valid dan sulit dibantah. Ia pun mempertanyakan istilah mana yang lebih dapat diterima oleh Gibran, antara disebut “ngantukan” oleh Panji atau “ptosis” oleh kalangan medis. "Jadi, Gibran lebih suka disebut Ngantukan sama Panji atau Ptosis sama dr Tompi?" ujar dokter Tifa. Dokter Tifa juga mempromosikan buku terbarunya berjudul GIBRAN’S BLACK BRAIN. Buku itu diklaim akan mengupas perilaku dan pola pikir pemimpin melalui pendekatan neuroscience behavior, epidemiologi perilaku, dan neuropolitik. "SEGERA! MEMBEDAH ISI OTAK FUFUFAFA, APA ISINYA? Baca buku GIBRAN'S BLACK BRAIN! Bagaimana Ilmu Neuroscience Behavior, Epidemiologi Perilaku, dan Neuropolitika menjadi pisau dan gunting yang tajam dalam membedah isi otak seseorang yang terpaksa harus diterima sebagai pemimpin negara ini," kata Tifa. Buku tersebut disebut dokter Tifa sebagai kelanjutan dari karya sebelumnya, JOKOWI’S WHITE PAPER. Dalam narasinya, dr Tifa menyatakan buku itu ditujukan sebagai upaya kritis untuk memahami kepemimpinan nasional agar “kesalahan fatal” tidak terulang kembali dalam sejarah bangsa. Ia menyebut karya tersebut akan menjadi pisau analisis untuk membedah perilaku figur publik yang, menurutnya, terpaksa harus diterima sebagai pemimpin negara. "Cukup sekali ini saja sebuah kesalahan fatal! Jangan sampai ada lagi jejak hitam menodai sejarah bangsa ini," katanya. Pernyataan dr Tifa ini kembali memantik reaksi publik karena memadukan isu kesehatan, politik, dan kritik personal terhadap pejabat negara. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Gibran Rakabuming Raka maupun Panji Pragiwaksono terkait pernyataan tersebut. Satire Pernyataan komika Pandji Pragiwaksono yang menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tampak 'ngantukan' dalam sebuah penampilan publik memicu perdebatan. Sejumlah tokoh publik pun angkat bicara. Sebagian besar menyoroti batas antara kritik, satire, dan etika profesional, terutama ketika menyangkut figur pejabat negara. Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menilai kritik dan satire merupakan bagian sah dari demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak melampaui batas dengan menyeret tuduhan personal, apalagi bernuansa medis, tanpa dasar etik dan hukum yang kuat. Menurut Mahfud, kebebasan berpendapat harus tetap disertai tanggung jawab. Sikap serupa disampaikan dokter dan musisi Tompi. Ia menegaskan bahwa istilah medis seperti ptosis tidak bisa disimpulkan hanya dari pengamatan visual, foto, atau video. Diagnosis medis, kata Tompi, wajib dilakukan melalui pemeriksaan langsung dan prosedur klinis yang komprehensif. Ia mengingatkan bahwa penyalahgunaan istilah medis di ruang publik berpotensi menyesatkan dan melanggar etika profesi. Sementara itu, pengamat komunikasi politik menilai respons Gibran yang tidak memberikan bantahan terbuka dan memilih bersikap tenang sebagai strategi komunikasi yang terukur. Pendekatan non-konfrontatif tersebut dinilai efektif untuk meredam eskalasi polemik, sekaligus menjaga stabilitas citra pribadi dan institusi kepresidenan. Hingga kini, Gibran sendiri tidak memberikan pernyataan langsung terkait label “ngantukan” maupun perdebatan lanjutan soal istilah medis yang muncul. Tanggapan Gibran Sindiran komika Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan stand-up Mens Rea dengan menyebut Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka tampak “ngantuk”, ditanggapi dengan tenang oleh Gibran. Gibran tidak turun langsung memberi klarifikasi atau protes terbuka. Gibran memilih menyampaikan respon secara implisit melalui unggahan di akun Instagram resminya @gibran_rakabuming. Dalam unggahan itu, ia membagikan video kunjungannya ke Doss Guava XR Studio, sebuah fasilitas kreatif teknologi Extended Reality (XR) di Jakarta. Dalam pesan tersebut, Gibran menonjolkan dukungan terhadap pengembangan industri film dan konten kreatif nasional tanpa membahas sindiran soal dirinya secara eksplisit. Viv Yang menjadi perhatian publik adalah pilihan musik yang mengiringi unggahan tersebut: lagu Lagu Melayu karya Pandji Pragiwaksono. Banyak warganet menilai penggunaan lagu itu sebagai jawaban simbolis Gibran terhadap sindiran yang dilontarkan Pandji dalam Mens Rea. Langkah halus ini dipandang oleh sebagian pengamat sebagai strategi komunikasi yang matang. Gibran memberi pesan tetap memantau percakapan publik tentang dirinya, namun memilih untuk merespons dengan cara yang menjauhkan diri dari konfrontasi langsung. Sekaligus menunjukkan dukungan terhadap kreator konten dan industri kreatif Indonesia. Gibran belum memberikan pernyataan publik secara resmi yang menanggapi secara langsung materi stand-up Pandji. Namun respons tidak langsungnya melalui media sosial telah menjadi bahan diskusi luas di jagat digital Sumber: Wartakota