GELORA.CO - Terungkap alasan konten Denny Sumargo yang berisi podcast bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menghilang di Youtube. Denny Sumargo menjelaskan alasan konten podcast bersama Ahok menghilang di Youtube pada Rabu (7/1/2026). Pria yang karib disapa Densu itu membantah bahwa pihaknya menghapus podcast bersama Ahok. Adapun kata Densu, pihak Youtube yang menghapus podcast tersebut karena ada beberapa hal yang dianggap melanggar ketentuan komunitas. Diduga ada bahasa yang harus disensor dalam konten tersebut. Oleh karena itu Denny Sumargo bersama tim kemudian melakukan penyuntingan ulang agar video tersebut bisa kembali ditayangkan dan dinikmati penonton. Podcast bersama Ahok itu akhirnya diunggah ulang di kanal YouTube Denny Sumargo dengan judul “Video Ini Hilang dari Beranda. Ahok Bongkar Semuanya di Sini.” Dalam perbincangan tersebut, Densu dan Ahok membahas berbagai topik, mulai dari pendidikan di Indonesia, materi stand up comedy Mens Rea milik Pandji Pragiwaksono, hingga Undang-Undang Perampasan Aset. Dengan gaya bicara yang blak-blakan, Ahok menyampaikan pandangan pribadinya terhadap sejumlah isu panas yang dilontarkan Densu. Dimuat Tribunnews.com Ahok dalam podcast tersebut membongkar praktik kecurangan yang pernah ia saksikan saat mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) dilakukan lewat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Ahok sendiri sudah mengungkap, wacana Pilkada melalui DPRD adalah alasan dirinya keluar dari partai politik. "Dulu aku keluar dari partai politik gara-gara itu. Sudah tahulah ya," kata Ahok, dalam podcast/siniar yang diunggah di kanal YouTube CURHAT Bang Denny Sumargo, Rabu (7/1/2026). Pada 10 September 2014 atau lebih dari 12 tahun lalu, Ahok memutuskan keluar dari Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) yang sebelumnya bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), mendukung dirinya menjadi Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012. Saat itu, Ahok menjelaskan alasan di balik keputusan ini adalah tidak lagi sejalan dengan Partai Gerindra yang sangat mendukung Revisi UU Pemilihan Umum/Kepala Daerah (Pemilukada) yang dipilih langsung oleh DPRD. Kemudian, Ahok mengaku tahu betul bagaimana praktik yang diterapkan partai politik dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Riau yang dilakukan lewat DPRD. Ahok yang juga pernah menjadi politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu mengungkap, para anggota DPRD yang akan memilih calon kepala daerah sudah mendapat instruksi masing-masing, siapa yang akan dipilih di pemilihan kepala daerah. Hal ini Ahok ketahui ketika sering membantu ayahnya, mendiang pengusaha Bangka Belitung, Indra Tjahaja Purnama. "Saya dari sekolah kan, banyak bantu bapak saya. Jadi, dulu ketua-ketua partai besar itu pasti kumpulnya di rumah Bapak saya," ujar mantan suami Veronica Tan itu. "Makanya, saya tahu persis dulu misalnya dari tiga partai, pemilihan bupati misalnya, partai berkuasa itu bisa kumpulin ketua partai yang kesannya berantem di lapangan itu diatur tuh, pilih siapa, pilih siapa." "Mungkin orang masih ingat, pernah kejadian dulu di Provinsi Riau yang Imam Munandar, atau apa, tentara juga, dan pemilihan tiba-tiba kok suara dia suara sebelum [Pilkada], sudah dipanggil nih, 'eh lu pilih ini ya, pilih ini ya,' gitu diatur kan Sumber: Wartakota