GELORA.CO - Gelombang demonstrasi di Iran telah memasuki pekan kedua. Bukannya mereda, protes malah meluas dan memanas, akibatnya lebih dari 70 orang meninggal dunia. Di tengah gelombang protes, nama Reza Pahlavi kembali mencuri perhatian. Putra mendiang Shah Iran itu muncul sebagai salah satu figur oposisi paling vokal, menyerukan rakyat turun ke jalan dan menantang langsung legitimasi pemerintahan Republik Islam. Tokoh yang telah hidup di pengasingan hampir 50 tahun ini aktif menyampaikan pesan melalui media sosial, mendorong para demonstran untuk mempertahankan tekanan terhadap rezim. Seruannya bergema di tengah situasi yang makin memanas, ketika aparat keamanan Iran meningkatkan tindakan represif terhadap para pengunjuk rasa. Pada saat bersamaan, pemerintah Iran mengakui keberadaan protes tetapi terus melakukan penindakan keras. Laporan kelompok HAM menyebut ratusan orang juga ditangkap akibat bentrokan dengan aparat keamanan di berbagai kota. Gelombang demonstrasi ini dipicu krisis ekonomi akut, terutama anjloknya nilai tukar rial, yang memperparah ketidakpuasan publik terhadap sanksi internasional, inflasi, dan tata kelola negara. Di tengah kekacauan tersebut, nama Reza Pahlavi kembali muncul sebagai simbol alternatif kepemimpinan Iran masa depan. 1. Siapa Reza Pahlavi? Reza Pahlavi adalah putra Shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979. Lahir di Teheran pada 1960, dia diangkat sebagai putra mahkota hingga keluarganya kehilangan kekuasaan akibat revolusi yang dipimpin ulama Syiah. Sejak meninggalkan Iran pada 1978 untuk mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat, Pahlavi hidup dalam pengasingan. Setahun kemudian, ayahnya melarikan diri dari Iran dan rezim monarki runtuh, digantikan pemerintahan teokratis yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini. Meski secara simbolis dinyatakan sebagai Shah di pengasingan pada ulang tahunnya yang ke-20 pada 1980, Pahlavi tidak pernah memiliki kekuasaan nyata. Upayanya untuk tampil sebagai figur pemersatu oposisi kerap memicu perdebatan, mengingat warisan kontroversial dinasti Pahlavi, termasuk ketimpangan ekonomi dan reputasi brutal aparat intelijen SAVAK pada era ayahnya. 2. Apa hubungan Pahlavi dan demo di Iran? Dalam beberapa hari terakhir, Reza Pahlavi aktif menyerukan aksi protes berkelanjutan. Dia mengajak demonstran membawa simbol-simbol nasional lama, seperti bendera singa dan matahari, serta mengklaim kembali ruang publik dari kekuasaan negara. Namun, dukungannya tidak sepenuhnya bulat. Sebagian pihak mempertanyakan apakah teriakan dukungan terhadap ‘Shah’ mencerminkan dukungan personal terhadap Pahlavi atau sekadar kerinduan pada kondisi sebelum Revolusi Islam 1979. Sikap politik Pahlavi, termasuk dukungan terbukanya terhadap Israel, juga menuai kritik, terutama setelah perang singkat dengan Israel pada Juni 2025. Meski demikian, dia tetap mendapat sorotan luas dari media berbahasa Persia di luar negeri dan menjadi salah satu suara oposisi paling menonjol saat ini. 3. Demonstrasi meluas, pemerintah Iran perketat represi Gelombang protes bermula pada 28 Desember 2025, menyusul runtuhnya nilai tukar rial yang kini menembus lebih dari 1,4 juta per dolar AS. Mata uang Iran telah kehilangan sekitar separuh nilainya sejak September 2025, memperdalam krisis ekonomi akibat sanksi internasional. Kelompok HAM berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan sedikitnya 116 orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan hingga awal pekan ini. Lebih dari 2.600 orang dilaporkan ditahan, sementara aksi protes tercatat terjadi di ratusan lokasi di seluruh 31 provinsi Iran. Pemerintah Iran merespons dengan pengerahan aparat keamanan dan narasi keras. Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, menyatakan para peserta kerusuhan akan diperlakukan sebagai ‘musuh Tuhan’, tuduhan serius yang dapat berujung hukuman mati. Media pemerintah juga menyiarkan rekaman yang menampilkan dugaan kekerasan oleh demonstran, termasuk penggunaan senjata api dan bom molotov. Di tengah tekanan tersebut, masa depan politik Iran kembali menjadi tanda tanya besar. Sementara Reza Pahlavi berupaya menempatkan diri sebagai simbol perubahan, belum jelas apakah figur monarki lama itu mampu menyatukan spektrum luas oposisi Iran atau sekadar menjadi bagian dari dinamika politik yang kian terpolarisasi.