Video Syur ‘Batang Timur’ 16 Detik Viral, Warga Resah, Diduga Modus Love Scam

GELORA.CO - Sebuah video berdurasi 16 detik yang diklaim berasal dari “Batang Timur”, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kembali menghebohkan jagat media sosial dalam beberapa hari terakhir. Konten intim tersebut menjadi buruan warganet, dengan berbagai tautan dan narasi menyebar luas di platform seperti TikTok, Twitter, dan WhatsApp. Namun, di balik viralnya konten tersebut, muncul keresahan mendalam dari warga setempat. Mereka mengecam penyebaran konten ilegal ini, terlebih karena dugaan kuat bahwa kasus ini merupakan bentuk kejahatan digital bermodus love scam dan pemerasan. Nama ‘Batang Timur’ Picu Stigma Negatif Istilah “Batang Timur” dalam judul video langsung memicu asosiasi geografis dengan Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Padahal, hingga kini tidak ada bukti valid yang menunjukkan bahwa lokasi kejadian memang berada di wilayah tersebut. Penggunaan nama daerah dalam judul konten provokatif ini telah memicu stigma negatif terhadap warga setempat. Beberapa warga Batang melalui media sosial menyampaikan kekecewaan mereka. “Kami tidak tahu siapa pelakunya, tapi kami yang jadi sasaran ejekan. Ini merugikan nama baik daerah,” ujar salah seorang warga, sebagaimana dihimpun Mureks. Fenomena serupa bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, istilah seperti “Cianjur”, “Garut”, atau “Sleman” juga pernah digunakan secara sembarangan dalam judul video viral, seringkali tanpa dasar faktual yang kuat. Kronologi Dugaan Love Scam dan Pemerasan Digital Catatan Mureks menunjukkan, kasus ini diduga berawal dari perkenalan seorang influencer lokal berinisial A, yang juga dikenal dengan nama populer G, dengan seorang perempuan melalui platform media sosial. Komunikasi awal keduanya bersifat personal dan intens. Setelah hubungan terjalin, diduga pihak perempuan—atau akun yang mengaku perempuan—meminta sejumlah uang kepada A. Namun, A menolak memberikan dana karena merasa curiga dengan permintaan tersebut. Pasca-penolakan, muncul ancaman dari pihak lawan komunikasi A. Tak lama setelah itu, video pribadi A beredar luas dengan judul “Batang Timur 16 Detik”. Video tersebut menyebar cepat, disertai narasi sensasional yang justru membuat A mengalami bullying, doxing, dan serangan reputasi di dunia maya. Padahal, dalam kasus seperti ini, A seharusnya dilindungi sebagai korban kejahatan digital. Bahaya Pencarian Konten Sensitif dan Kejahatan Digital Kasus ini menyoroti bahaya nyata di balik tren pencarian konten sensitif dan penyebaran informasi tanpa verifikasi. Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan tautan atau memperkuat hoaks yang dapat merugikan korban dan memicu kejahatan digital lebih lanjut. Pihak berwenang terus mengingatkan pentingnya menjaga privasi digital dan berhati-hati dalam berinteraksi di media sosial, terutama jika melibatkan permintaan uang atau ancaman penyebaran konten pribadi.