GELORA.CO - Israel dilaporkan ketakutan jika Donald Trump memutuskan menyerang Iran sekarang lantaran sistem pertahanan udara mereka belum siap jika nantinya Teheran melancarkan serangan balik. Israel kini masih kekurangan dalam jumlah sistem antirudal yang habis digunakan saat perang 12 hari pada Juni 2025. Atas dasar itulah, seperti dilaporkan Ynet melansir laporan CNN pada Jumat (16/1/2026), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menelepon Trump pada Rabu (14/1/2026) meminta AS menunda serangan ke Iran hingga Israel siap. "Menurut CNN, pejabat Israel mengingatkan bahwa sistem pertahanan udara yang banyak digunakan pada perang tahun lalu dengan Iran dan mereka tidak yakin rezim Iran akan kolaps dalam waktu cepat tanpa melalui aksi militer jangka panjang," tulis Ynet . Dalam laporan yang sama, CNN juga menyebutkan bahwa dalam waktu bersamaan dengan panggilan telepon Netanyahu kepada Trump, sejumlah negara sekutu AS juga melancarkan upaya diplomatik untuk mencegah AS menyerang Iran. Trump pun kemudian sadar bahwa, aksi militer dengan hasil yang tak pasti dapat menempatkan prajurit AS dalam posisi berbahaya. Seorang sumber di Gedung Putih mengungkap bahwa, Netanyahu berhasil meyakinkan Trump untuk menunda serangan ke Iran. Israel tak yakin rezim Iran saat ini bisa digulingkan tanpa melalui sebuah aksi militer jangka panjang. Sumber lain menyebut, atas dasar itulah, Israel khawatir serangan balasan Iran lewat hujan rudal nantinya tak mampu dibendung oleh Israel. Permintaan Netanyahu agar Trump menunda serangan terhadap Iran juga dikuatkan melalui laporan New York Times (NYT) pada Kamis (15/1/2026). Dalam laporannya, NYT juga menyebutkan bahwa tidak hanya Israel, tapi juga beberapa negara Arab khawatir Iran akan melancarkan serangan balik terhadap mereka yang memiliki pangkalan udara AS. Laporan NYT mengutip seorang sumber pejabat senior AS mengatakan, Netanyahu "meminta Presiden Trump untuk menunda rencana serangan militer AS terhadap Iran." Namun, NYT tidak menerangkan alasan mengapa Netanyahu, yang biasanya sangat mendukung rencana serangan AS terhadap Iran, kini malah meminta Trump menunda serangan. NYT juga tidak mengelaborasi subjudul artikelnya yang menyebut Israel takut atas serangan balasan Iran. Kembali ke laporan Ynet, Presiden Trump sebenarnya sudah siap mengeksekusi rencana serangan Iran pada Rabu atau Kamis malam. Lewat suatu serangan yang dahsyat, cepat, dan dalam waktu yang singkat, diharapkan berujung pada tergulingnya rezim Iran yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei. Namun, para penasihat Trump dan para jenderal di Pentagon tidak mampu memberikan jaminan bahwa serangan yang diinginkan Trump dapat langsung menggulingkan Khamenei. Sebuah operasi militer yang singkat dan kuat memerlukan persiapan ekstensif, contohnya yang terjadi di Venezuela yang didahului dengan persiapan selama beberapa pekan. "Yang pasti adalah serangan terhadap Iran akan memicu serangan balasan. Pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah akan dibombardir Iran, Israel pun akan dipaksa untuk ikut berkonfrontasi dan menerima kiriman berondongan rudal dan drone, dan industri energi sekutu AS di Teluk juga akan diserang Iran. Serangan balasan Iran akan mengerek harga minyak dunia dan ongkos produksi, termasuk di AS," demikian laporan Ynet. Israel kekurangan stok interseptor Menurut laporan Times of Israel , beberapa ahli mengingatkan bahwa Israel akan menemui situasi di mana mereka kini kekurangan sistem interseptor rudal jika Iran melancarkan serangan balasan atas aksi militer AS. Premis itu didasari atas laporan Wall Street Journal (WSJ), bahwa hanya lima hari setelah perang 12 hari dimulai pada 13 Juni 2025, stok interseptor Arrow milik Israel menipis. Jika saja perang berlangsung lebih dari 12 hari, menurut WSJ , Israel bisa langsung menghabiskan seluruh stok sistem pertahanan udaranya. Padahal, AS kala itu pun ikut membantu Israel dengan menembakkan 150 atau 25 persen dari seluruh stok interseptor THAAD. Dan dalam laporan WSJ pada 24 Juli 2025, dibutuhkan waktu setidaknya satu tahun untuk memulihkan stok setelah perang berakhir. "Meski Israel memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang canggih, termasuk Arrow, David’s Sling dan Iron Dome, Israel saat itu menghemat persediaan sistem pertahanannya hingga perang berakhir," kata WSJ . Jika saja saat itu Iran tidak langsung menyepakati gencatan senjata yang diprakarsai Trump dengan melancarkan sekali lagi hujanan rudal balistik atau hipersonik, menurut laporan WSJ, Iran bisa melenyapkan seluruh sistem pertahanan udara Israel. Namun, Iran saat itu tidak tahu bahwa Israel hampir kehabisan stok Arrow cs dan langsung menyetujui gencatan senjata. Sekarang, tujuh bulan setelah perang 12 hari, Israel tampaknya belum mampu menambah kembali jumlah atau stok sistem pertahanan udara mereka. Dan tidak ada indikasinya juga Israel telah siap menghadapi perang baru melawan Iran. Dampak kerusakan Selama perang 12 hari, Iran dilaporkan setidaknya meluncurkan 500 rudal dan 1.000 drone ke Israel. Tel Aviv mengklaim berhasil mengintersep 86 persen dari total jumlah rudal dan drone itu. Meski pemerintah Israel menerapkan sensor ketat terhadap media dalam melaporkan dampak serangan Iran, foto-foto dan video yang beredar di media sosial tak bisa menyembunyikan kerusakan parah infrastruktur di beberapa kota di Israel. Laporan Haaretz menggambarkan bahwa, sistem pertahanan udara Israel gagal dalam mengintersep semua rudal-rudal Iran. "Otoritas Pajak Israel menerima pengajuan permohonan bantuan finansial setidaknya dari 33 ribu infrastruktur terdampak," demikian laporan Haaretz . Masih menurut laporan Haaretz , 480 gedung mengalami kerusakan di lima lokasi terpisah, sebagian besar rusak parah. Di Ramat Gan, 10 dari 237 gedung yang dihantam rudal Iran, rusak parah. Di wilayah sekitar Tel Aviv, Bat Yam, 78 gedung rusak oleh satu hantaman rudal, 22 di antaranya harus diratakan dengan tanah. Selain 33.000 bangunan rusak terdaftar, Otoritas Pajak Israel juga menerima 4.450 laporan kehilangan barang dan perlengkapan, dan 4.119 laporan kerusakan kendaraan bermotor. Serangan Iran juga membunuh 29 warga sipil, dan menurut sebuah peta yang diunggah Haaretz , sebanyak 96 gedung tinggi rusak parah. Laporan Haaretz belum memasukkan daftar gedung di luar milik warga sipil. Padahal, diketahui Iran juga menghantam sejumlah pangkalan militer, termasuk Kirya dan Kamp Moshe Dayan di Tel Aviv; dan juga pusat penyulingan minyak BAZAN di Haifa; dan Institut Sains Weizmann di Rehovot, ikut rusak dihantam rudal-rudal Iran.