GELORA.CO – Serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke berbagai wilayah Iran telah menewaskan sedikitnya 555 orang. Angka tersebut disampaikan Bulan Sabit Merah Iran, Senin (2/3/2026). Namun, Bulan Sabit Merah Iran tidak merinci jumlah korban luka. Sementara kantor berita negara Tasnim sebelumnya melaporkan, hingga Minggu, 1 Maret 2026, sekitar 750 orang lainnya juga terluka. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring berlanjutnya operasi militer di berbagai wilayah. Dalam pernyataannya, lembaga kemanusiaan itu menyebutkan sejak operasi militer dimulai hingga memasuki hari ketiga, sedikitnya 131 kota di seluruh Iran telah menjadi sasaran serangan. Ini menunjukkan konflik telah menjangkau wilayah yang jauh lebih luas di Republik Islam tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menegaskan akan membalas dendam kepada AS dan Israel menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dia menyatakan tidak akan membiarkan tindakan AS-Israel yang dinilainya sebagai kejahatan besar. "Kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa jawaban dan akan membuka lembaran baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah. Darah murni pemimpin berpangkat tinggi ini (Khamenei) akan mengalir seperti mata air yang deras dan akan memberantas penindasan dan kejahatan Amerika-Zionis," kata Pezeshkian, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (1/3/2026). Dia berjanji akan membuat pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kematian Khamenei menyesali perbuatannya. Iran telah melancarkan serangan balasan ke Uni Emirat Arab (UEA) yang menewaskan enam perwira senior Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA). Kantor berita Tasnim, dikutip Senin (2/3/2026), melaporkan dua agen CIA lainnya terluka dalam serangan yang menargetkan Abu Dhabi tersebut. Terpisah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan sedikitnya 560 personel militer AS tewas atau luka dalam serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. Iran disebut menggempur pangkalan militer AS di Bahrain, Qatar, Irak, UEA, dan Kuwait. "Fasilitas militer AS di Bahrain diserang oleh dua rudal balistik. Pangkalan-pangkalan lain juga berada di bawah serangan tanpa henti yang sejauh ini mengakibatkan 560 tentara AS tewas atau luka," bunyi pernyataan IRGC. Pernyataan itu juga menyebutkan empat serangan drone terhadap pangkalan angkatan laut Bahrain menyebabkan kerusakan serius pada pusat komando dan dukungan militer AS. IRGC juga mengklaim menyerang pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait hingga melumpuhkan operasionalnya, serta tiga objek di Mohammed Al Ahmad. Sementara itu, Washington belum merespons klaim kematian tentara dan agen intelijen yang dilaporkan media Iran. Departemen Pertahanan AS (Pentagon) sejauh ini hanya mengakui tiga tentaranya tewas dalam serangan balasan Iran. Mereka menjadi korban pertama tentara AS sejak serangan dimulai Sabtu (28/2/2026) Sumber: inews