Kisah Shah Ismail I Mengubah Iran dari Negeri Sunni Menjadi Syiah

GELORA.CO - Iran, yang sedang perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, sekarang dikenal sebagai pusat Syiah terbesar di dunia. Namun, sebelum menjadi negeri Syiah, Iran modern dulunya adalah negeri Sunni seperti halnya negara-negara Islam di Timur Tengah. Selama hampir sembilan abad setelah penaklukan Islam, wilayah Persia—yang kini menjadi Iran—didominasi oleh Muslim Sunni. Perubahan radikal baru terjadi pada awal abad ke-16 ketika seorang pemimpin muda bernama Shah Ismail I naik ke panggung sejarah dan mendirikan negara baru yang dikenal sebagai Safavid Empire. Dalam waktu relatif singkat, kebijakan politik dan religius Shah Ismail I mengubah lanskap keagamaan Iran secara permanen. Keputusan menjadikan Syiah sebagai mazhab resmi negara bukan sekadar pilihan teologis, tetapi juga strategi geopolitik yang membentuk identitas Iran hingga hari ini. Kisah Shah Ismail I Ubah Iran dari Negeri Sunni Jadi Syiah Mengutip buku "Converting Persia: Religion and Power in the Safavid Empire" karya Rula Jurdi Abisaab, Shah Ismail I lahir pada 1487 di Ardabil, wilayah Azerbaijan Iran sekarang. Dia berasal dari keluarga pemimpin tarekat sufi Safawi yang sebelumnya tidak dikenal sebagai dinasti kerajaan. Namun dalam usia yang sangat muda, Ismail berhasil memobilisasi pasukan militan dari suku-suku Turkoman yang dikenal sebagai Qizilbash—pasukan fanatik yang memandangnya hampir sebagai figur mesianik. Pada tahun 1501, Ismail memimpin kampanye militer yang sukses melawan konfederasi Turkmen Aq Qoyunlu. Setelah merebut kota Tabriz, dia memproklamasikan dirinya sebagai “Shahanshah” atau "Raja Segala Raja" dan mendirikan Kekaisaran Safawi. Namun langkah yang paling menentukan bukanlah penobatannya sebagai raja, melainkan kebijakan religius yang menyertainya. Ismail secara resmi menetapkan Syiah Imam Dua Belas (Twelver Shiism) sebagai mazhab negara. Keputusan ini menandai titik balik besar dalam sejarah Islam karena Iran sebelumnya mayoritas Sunni selama berabad-abad. Iran Jadi Negeri Sunni Hampir 900 Tahun Sebelum era Safawi, mayoritas Muslim Persia menganut Sunni—terutama mazhab Syafi’i dan Hanafi. Banyak ulama besar Islam berasal dari wilayah Persia dalam periode ini, dan hampir semuanya merupakan bagian dari tradisi Sunni. Dengan kata lain, ketika Shah Ismail naik takhta, dia memerintah sebuah masyarakat yang secara teologis berbeda dari ideologi negara yang ingin dia bangun. Di sinilah dimulai salah satu proyek transformasi religius terbesar dalam sejarah dunia Islam. Setelah memproklamasikan negara Safawi, Shah Ismail mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk “men-Syiah-kan” Iran. Salah satu langkah simbolik adalah mengubah azan di seluruh wilayah kekuasaan dengan menambahkan kalimat yang menegaskan kedudukan Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai "sahabat Tuhan". Selain itu, dia memerintahkan khutbah Jumat menyebut para imam Syiah dan bahkan mendorong penghinaan terhadap tiga khalifah pertama yang dihormati oleh Sunni—Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Langkah-langkah ini memiliki tujuan jelas: membangun identitas religius baru yang membedakan Iran dari dunia Sunni di sekitarnya. Proses perubahan mazhab di Iran tidak berlangsung secara damai. Banyak sejarawan mencatat bahwa pemerintahan Safawi menggunakan tekanan politik dan kekerasan untuk memaksakan konversi. Shah Ismail menugaskan pejabat religius negara untuk menyebarkan doktrin Syiah ke wilayah yang baru ditaklukkan. Ulama Syiah dari Irak, Suriah, dan Lebanon juga diundang untuk membangun lembaga keagamaan baru. Namun di sisi lain, perlawanan dari masyarakat Sunni sering berakhir dengan represi keras. Catatan sejarah menyebut ribuan Sunni dibunuh di Tabriz ketika terjadi penolakan terhadap kebijakan baru tersebut. Sejumlah hakim, ulama, dan pejabat Sunni juga dieksekusi setelah kota-kota seperti Shiraz dan Isfahan jatuh ke tangan Safawi. Metode seperti ini menunjukkan bahwa proses “Syiahisasi” Iran adalah proyek politik negara yang dijalankan secara sistematis. Alasan Geopolitik: Melawan Ottoman Mengapa Shah Ismail mengambil langkah ekstrem ini? Jawabannya tidak hanya terkait agama, tetapi juga geopolitik. Pada awal abad ke-16, dunia Islam didominasi oleh kekuatan Sunni besar seperti Ottoman Empire di Anatolia dan Balkan serta Kesultanan Mamluk di Mesir. Dengan menjadikan Syiah sebagai ideologi negara, Safawi menciptakan garis pembeda yang jelas antara Iran dan kekuatan Sunni tersebut. Syiah menjadi alat legitimasi politik yang mempersatukan berbagai suku di Iran sekaligus membangun identitas nasional yang berbeda. Strategi ini terbukti efektif. Dalam waktu singkat, Safawi berhasil menyatukan wilayah Iran yang sebelumnya terpecah-pecah sejak runtuhnya kekuasaan Mongol. Proses konversi Iran berlangsung selama beberapa generasi setelah Shah Ismail. Namun fondasi yang dia bangun membuat perubahan itu hampir tidak dapat dibalik. Pada abad ke-18, Iran telah berubah dari negara Sunni menjadi pusat Syiah dunia. Transformasi ini juga memengaruhi kawasan lain seperti Irak selatan, Azerbaijan, dan Lebanon. Hari ini, sekitar 90 persen penduduk Iran menganut Syiah Imam Dua Belas—sebuah realitas yang berakar langsung pada keputusan politik Shah Ismail lima abad lalu. Warisan Shah Ismail tidak hanya religius tetapi juga geopolitik. Konflik identitas antara Iran Syiah dan kekuatan Sunni di Timur Tengah modern sering dilihat sebagai kelanjutan dari rivalitas yang mulai terbentuk pada era Safawi dan Ottoman. Dalam arti tertentu, keputusan Shah Ismail pada tahun 1501 tidak hanya mengubah Iran, tetapi juga membentuk garis patahan politik dan sektarian di Timur Tengah hingga hari ini. Di bukan sekadar pendiri dinasti, melainkan arsitek revolusi mazhab yang menjadikan Iran benteng utama Syiah di dunia Islam.