Menkeu Purbaya Buka Peluang Naikkan Harga BBM Subsidi Imbas Perang Iran vs AS-Israel

GELORA.CO - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membuka kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jika lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah terus berlanjut dan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pernyataan ini disampaikan Purbaya di tengah eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Harga minyak Brent sempat menembus level di atas US$80 per barel, melebihi asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan pada US$70 per barel. Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi berbagai skenario kenaikan harga minyak. Jika tekanan terhadap APBN terlalu besar dan tidak ada opsi lain, maka penyesuaian harga BBM subsidi menjadi salah satu langkah yang mungkin diambil. "Kalau memang anggarannya enggak kuat sekali dan tak ada jalan lain, ya kita bagi ke masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM kalau memang (seperti itu)," ujar Purbaya kepada wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026). Menurutnya, keputusan ini diambil untuk menjaga defisit APBN tidak melebihi batas yang ditetapkan, sambil menghindari pembengkakan subsidi energi yang bisa mencapai ratusan triliun rupiah jika harga minyak terus meroket tanpa kendali. Pemerintah juga mempertimbangkan langkah alternatif seperti penghematan di sektor lain, termasuk potensi penyesuaian anggaran program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), sebelum memutuskan kenaikan harga BBM subsidi. Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah masih optimis dapat mengendalikan dampaknya. Harga minyak di level US$92 per barel dinilai masih bisa ditangani tanpa langsung menaikkan harga BBM subsidi, asal ada penyesuaian fiskal lainnya. Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya memastikan bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak akan naik setidaknya hingga Hari Raya Idul Fitri 2026, meskipun konflik di Timur Tengah memanas. Lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh ketegangan geopolitik yang semakin intens, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak global. Indonesia sebagai negara net importir minyak dan gas (migas) rentan terhadap fluktuasi harga ini. Pemerintah terus memantau situasi dan menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional serta daya beli masyarakat. Pihak terkait diharapkan memberikan penjelasan lebih lanjut jika ada perkembangan baru terkait kebijakan harga BBM subsidi di tengah gejolak global ini.