GELORA.CO - Ada yang aneh dari penampilan Presiden AS Donald Trump di tengah kegaduhan dunia antara perang Israel-AS menyerang Iran, yakni kondisi kesehatan kulitnya. Ruam merah yang tampak bercak-bercak terlihat di sisi kanan leher Trump, tepat di atas garis kerah, dalam foto-foto dari penampilannya pada upacara Medal of Honor menjadi sorotan. Sebetulnya Trump sakit apa? Dilansir dari Reuters, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menggunakan perawatan pencegahan kesehatan kulit yang memicu ruam merah di lehernya, menurut dokternya. Namun, pada hari Rabu Gedung Putih menolak untuk membagikan rincian lebih lanjut tentang kondisi tersebut. Dalam sebuah pernyataan setelah acara tersebut, Dr. Sean Barbabella, dokter Gedung Putih, mengatakan bahwa Trump menggunakan krim yang umum digunakan sebagai “perawatan kulit pencegahan.” “Presiden menggunakan perawatan ini selama satu minggu, dan kemerahan diperkirakan akan berlangsung selama beberapa minggu,” kata Barbabella. Ketika ditanya pada hari Rabu tentang mengapa perawatan tersebut diperlukan, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada para wartawan bahwa ia tidak memiliki informasi tambahan selain yang sudah disampaikan dalam pernyataan dokter. Sebelumnya Trump juga pernah mengalami memar di tangannya dan pembengkakan di kakinya. Pada bulan Januari, Trump mengatakan bahwa memar di tangannya disebabkan oleh seringnya ia menggunakan aspirin. Gedung Putih mengatakan hal yang berbeda yakni disebabkan presiden sering berjabat tangan hingga terbentur meja saat melakukan perjalanan ke luar negeri. Pada bulan Juli tahun lalu, setelah pergelangan kaki presiden terlihat bengkak, dokter Gedung Putih mengatakan bahwa hasil USG pada kaki presiden “menunjukkan insufisiensi vena kronis, kondisi yang jinak dan umum, terutama pada individu berusia di atas 70 tahun.” Saat dilantik untuk masa jabatan kedua tahun lalu, Trump menjadi presiden AS tertua yang pernah dilantik, dan ia sering membandingkan kesehatannya dengan mantan presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden. Para dokter juga memberikan kemungkinan penyebab munculnya ruam baru pada Presiden Donald Trump. Tanggapan Dokter Kulit Beberapa dokter kulit kemudian berbicara dengan media dan memberikan pendapat profesional mereka tentang kemungkinan penyebab ruam Trump. Dr. Dustin Portela, dokter kulit bersertifikat dan ahli bedah dermatologi di Idaho, mengatakan kepada The Daily Beast bahwa tanda pada kulit presiden bisa saja berasal dari Trump yang bermain golf di bawah sinar matahari langsung. Portela menjelaskan bahwa kemerahan dan pengelupasan kulit bisa menjadi indikasi penggunaan krim kemoterapi yang digunakan untuk mencegah kasus kanker kulit yang serius, serta dapat mengatasi pertumbuhan lesi prakanker atau keratosis aktinik. “Ini adalah jenis krim yang sering saya gunakan pada pasien saya, terutama pasien yang lebih tua, yang bermain golf, yang berperahu, atau yang sangat aktif di luar ruangan,” kata Portela kepada media tersebut. Ia menyebut Trump sebagai “contoh yang sangat khas dari seseorang berkulit sangat cerah dan berambut terang yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan, sehingga memiliki risiko tinggi terkena kanker kulit.” Dr. Elizabeth Bahar Houshmand, dokter kulit bersertifikat ganda dari Texas, mengatakan kepada HuffPost bahwa “penjelasan yang paling mungkin adalah presiden sedang menjalani perawatan untuk kondisi aktinik,” yaitu kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari. Houshmand menjelaskan bahwa kondisi aktinik, yang juga dikenal sebagai “actinic keratoses” atau “prakanker,” umum terjadi pada orang yang sering terpapar sinar matahari. Dr. Anthony Rossi, dokter kulit di David H. Koch Center for Cancer Care di Memorial Sloan Kettering, mengatakan kepada HuffPost bahwa ia menduga Trump menggunakan “5-fluorouracil atau imunomodulator topikal imiquimod,” yang keduanya merupakan obat kemoterapi yang sering diresepkan dan biasanya digunakan selama dua hingga empat minggu. “Orang dengan kulit cerah, rambut terang, mata terang, serta paparan sinar UV kronis atau kebiasaan berjemur memiliki risiko paling tinggi mengalami keratosis aktinik atau prakanker ini,” jelas Rossi.