Para Ekstremis Kristen di Balik Serangan Trump ke Iran

GELORA.CO - Wajah agama Kristen yang diyakini sebagian besar penganutnya penuh kasih sayang berubah drastis di bawah administrasi Presiden AS Donald Trump. Kelompok Kristen fundamentalis dan Kristen Injili belakangan jadi pendukung utama agresi militer AS, juga sekutunya Israel. Hubungan erat itu tergambar nyata saat Trump mengundang sekelompok pemimpin Kristen ke Ruang Oval, Gedung Putih pada Kamis pekan lalu. Terlihat mereka berkumpul di sekeliling Trump dan meletakkan tangan kepadanya dalam doa ketika konflik yang melibatkan Iran terus meningkat. Video yang dibagikan di media sosial menunjukkan presiden duduk di belakang meja kerjanya sementara beberapa pendeta dan pemimpin evangelis berdiri di sekelilingnya, meletakkan tangan mereka di bahunya dan berdoa memohon bimbingan dan perlindungan. Di antara mereka yang hadir adalah penasihat spiritual Trump, Pastor Paula White, yang juga memimpin Kantor Kepercayaan Gedung Putih. Pendeta megachurch California Greg Laurie juga terlihat di ruangan itu, bersama pendeta Jentezen Franklin dan pemimpin evangelis Johnnie Moore. Kristen Protestan Evangelis alias Injili sejak lama jadi fenomena khas AS. Tak seperti awamnya pendeta Kristen yang hidup sederhana, pengkhotbah Injili ini kebanyakan hidup mewah bergantung pada donasi jemaat. Di AS, mereka meraih banyak jemaat dari saluran televisi khusus dan gereja-gereja raksasa. Di Amerika saat ini, ajaran denominasi Kristen ini berpusat pada hari akhir dan kedatangan Yesus Kristus. Dukungan mereka untuk Zionisme, juga untuk memerangi umat Islam terkait dengan eskatologi tersebut. Pada pemilihan presiden AS 2024, sedikitnya 80 persen penganut Kristen Evangelis memilih Trump. Angka itu menyumbang sekitar 26 persen suara untuk kemenangan Trump, merujuk exit poll Pew Research Center. Survei Pew Research Center pada 2025 lalu menunjukkan, sekitar tiga bulan setelah masa jabatan kedua Trump, kaum Protestan evangelis kulit putih terus menjadi salah satu pendukung terkuatnya. Sebanyak 72 persen menyetujui cara Trump saat ini menangani pekerjaannya sebagai presiden.Kemudian 69 persen menilai etika pejabat tinggi pemerintahan Trump sangat baik atau baik. Sedangkan 57 persen  mengatakan mereka lebih memercayai apa yang dikatakan Trump dibandingkan presiden sebelumnya. Rekaman doa bersama di Gedung Putih, adalah bukti terkini bahwa ekstremisme Kristen, kian terlihat bukan lagi sebuah gerakan pinggiran. ia telah berpindah dari bangku gereja ke Pentagon, Gedung Putih, dan gedung Kongres. Mulai dari keyakinan bahwa dukungan tanpa syarat AS terhadap Israel bukan sekadar pilihan kebijakan luar negeri namun merupakan mandat alkitabiah, hingga perang terhadap Iran, genosida di Gaza, dan pemboman di Timur Tengah, para ekstremis Kristen di pemerintahan AS percaya bahwa mereka sedang menggenapi nubuatan akhir zaman. Mondoweiss melaporkan, Paula White-Cain, yang menjalankan Kantor Kepercayaan Gedung Putih belakangan secara terbuka menyatakan bahwa "menolak Trump sama saja dengan menolak Tuhan." Ia juga sempat mengklaim bahwa kekuatan setan telah mencuri pemilu tahun 2020, dan secara militan pro-Israel. Dia membantu memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, membantu menengahi Perjanjian Abraham, dan bertemu secara pribadi dengan Netanyahu. Seorang jurnalis konservatif baru-baru ini menggambarkannya sebagai "pemuja hari kiamat psikopat" sementara menghuni kantor di Gedung Putih dan menjadi telinga presiden. Sedangkan Menteri Perang Pete Hegseth telah mengubah Pentagon menjadi sesuatu yang menyerupai sebuah gereja. Dia menjadi tuan rumah kebaktian doa Kristen selama jam kerja, dan mensponsori studi Alkitab mingguan. Pesan Menteri Perang AS kepada militer AS yang dilansir pada Senin (2/4/2026). Sementara pastor-pastor yang ia datangkan mengajarkan bahwa Tuhan memberkati sekutu Israel dan mengutuk musuh-musuhnya. Ia juga telah mengundang seorang pendeta yang menentang hak perempuan untuk memilih dan menyerukan agar AS menjadi negara teokrasi Kristen. Dia secara terbuka menyerukan “perang salib” melawan Islam. Dalam konferensi pers pekan lalu, Hegseth menyebut alasan Iran harus diserang karena menganut “delusi kenabian Islam”. “Rezim gila seperti Iran, yang sangat bergantung pada delusi Islam yang bersifat kenabian, tidak dapat memiliki senjata nuklir,” kata dia. Hal itu ia sampaikan saat membenarkan operasi militer besar AS melawan Teheran yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump. Hegseth lama dikenal sebagai komentator televisi yang sangat anti-Islam. Selain menulis buku yang mendorong Perang Salib baru terhadap umat Islam, ia juga punya tato bertuliskan “kafir” dalam tulisan Arab di lengannya. Ia tetap ditunjuk Trump meski sebagian anggota parlemen keberatan dengan rekam jejaknya tersebut. Sejak ia menjabat, nama resmi menteri pertahanan (secretary of defense) diubah menjadi menteri perang (secretary of war). Sejak pemboman AS-Israel di Iran dimulai, Yayasan Kebebasan Beragama Militer telah menerima lebih dari 200 pengaduan dari pasukan di setiap cabang militer yang mencakup lebih dari 40 unit dan setidaknya 30 instalasi. Para prajurit dan perwira melaporkan, komandan mereka memberitahu bahwa perang tersebut "disetujui secara alkitabiah" dan bahwa Trump "diurapi oleh Yesus untuk menyalakan api sinyal di Iran yang menyebabkan Armagedon dan menandai kembalinya Yesus ke Bumi." Ini bukanlah hal baru. Setelah tanggal 7 Oktober 2023, organisasi yang sama menerima keluhan tentang seorang komandan Angkatan Udara yang mengatakan kepada pasukannya bahwa perang dengan Hamas “semuanya telah dinubuatkan dalam Kitab Wahyu dan tidak ada yang bisa berbuat apa-apa mengenai hal itu.” Insiden lain melibatkan Mike Johnson, seorang anggota Partai Republik dan penganut Kristen Evangelis garis keras. Ia menjabat semacam ketua DPR AS. Pada Rabu pekan lalu ia menuduh Iran memiliki “agama yang sesat,” Berbicara di Capitol Hill, Johnson memuji keputusan presiden untuk menyerang Iran. “Negara sponsor terorisme terbesar, Iran dan proksinya, telah membunuh lebih banyak orang Amerika dibandingkan rezim teroris lainnya di dunia,” klaim Johnson. Ia kemudian menambahkan bahwa masyarakat Iran menganut agama yang salah. "Mereka berdedikasi terhadap hal ini. Mereka telah melakukannya, dan mereka mengatakannya secara diam-diam. Mereka ingin menghapuskan Israel dari muka bumi, dan mereka juga ingin membawa kita keluar. Kita adalah Setan besar dalam analogi mereka dan agama mereka yang salah arah." Sementara sebelumnya Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, juga penganut Kristen Evangelis, mengatakan kepada Tucker Carlson bahwa Alkitab memberi Israel hak atas tanah yang terbentang dari Sungai Nil hingga Efrat. Ini sebuah pernyataan yang sangat ekstrem sehingga Mesir, Yordania, dan bahkan pemerintahan Trump terpaksa menjauhkan diri dari hal tersebut. Yang menghubungkan semua tokoh di sekeliling Trump ini adalah pandangan dunia yang melihat dukungan AS terhadap Israel sebagai kewajiban alkitabiah, memandang Timur Tengah melalui kacamata nubuatan akhir zaman, pada dasarnya bersifat Islamofobia, dan percaya bahwa momen dalam sejarah ini ditakdirkan oleh Tuhan. Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), organisasi advokasi dan hak-hak sipil Muslim terbesar di AS, belakangan terus menyoroti tendensi ekstremisme di administrasi Trump. “Pada saat ketegangan meningkat, para pemimpin negara kita harus berupaya meredakan ketegangan, bukan mengobarkannya dengan fitnah luas terhadap seluruh agama,” bunyi pernyataan mereka terkait pidato Mike Johnson. "Retorika seperti ini mencerminkan masa-masa paling kelam dalam sejarah kita, ketika agama dan etnis minoritas dijelek-jelekkan untuk membenarkan diskriminasi dan perang. Perbedaan pendapat politik dengan pemerintah asing tidak boleh menjadi alasan untuk memfitnah agama yang dianut oleh sekitar dua miliar orang di seluruh dunia.”