GELORA.CO – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada Selasa (17/3/2026) setelah serangkaian serangan udara menghantam titik-titik vital di Irak dan Uni Emirat Arab (UEA). Serangan paling intens menyasar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad, sementara infrastruktur minyak dan transportasi di UEA terus digempur ratusan rudal dan drone. Di Baghdad, kawasan Zona Hijau yang sangat dijaga ketat menjadi saksi bisu serangan udara yang disebut sebagai yang "paling intens" sejak konflik dimulai. Sebuah sumber keamanan melaporkan bahwa tiga drone dan empat roket diarahkan ke Kedutaan Besar AS, dengan satu unit drone berhasil menerjang masuk ke dalam kompleks diplomatik tersebut. Ekonomi dan Mobilitas UEA Lumpuh Sejenak Sementara itu, Uni Emirat Arab menghadapi tekanan militer luar biasa dari Iran. Lebih dari 1.900 rudal dan drone dilaporkan telah diluncurkan ke wilayah UEA sejak perang pecah. Serangan ini secara spesifik menargetkan urat nadi ekonomi, termasuk pelabuhan minyak Fujairah dan wilayah sekitar Bandara Internasional Dubai. "Otoritas Penerbangan Sipil UEA sempat menutup ruang udara nasional demi keamanan sebelum akhirnya dibuka kembali pagi ini," lapor koresponden BBC di lapangan. Dampak serangan ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memicu kekhawatiran jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi negara yang selama ini dikenal sebagai pusat kemakmuran dan keamanan di Teluk. Gejolak Pasar Global dan Harga Minyak Eskalasi ini langsung memukul pasar komoditas dunia. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak 2,8 persen menjadi $103,08 per barel pada perdagangan pagi di Asia. Para pelaku pasar kini dalam posisi waspada tinggi, memantau apakah jalur perdagangan energi di Selat Hormuz akan tetap terbuka atau terblokade total akibat konflik yang terus meluas. Di sisi lain, bursa saham di Jepang dan Korea Selatan menunjukkan ketahanan tipis meski sangat bergantung pada pasokan minyak Teluk, didorong oleh sentimen positif dari sektor teknologi global. Namun, bayang-bayang perang tetap menjadi risiko utama bagi stabilitas finansial internasional dalam beberapa hari ke depan Sumber: Wartakota