Kaget dengan Balasan Iran, Trump Dilaporkan Minta Berhenti Perang

GELORA.CO – Serangan mendadak Israel ke ladang gas Pars Selatan milik Iran dibalas kontan ke fasilitas migas di negara-negara Teluk. Eskalasi berbahaya itu dikabarkan membuat Presiden AS Donald Trump mengiba minta serangan Iran dihentikan. “Untuk ketiga kalinya hari ini, Washington mengirimkan pesan melalui negara di regional meminta perang dihentikan,” demikian dilaporkan akun media Iran Now pada Kamis. Permintaan AS itu didampingi ancaman pembunuhan terhadap para petinggi Iran yang lebih lekas. “Iran menegaskan posisinya belum berubah. Tak ada gencatan senjata sebelum tujuan negara itu, yang disampaikan pejabatnya, tercapai.” Perubahan sikap Trump atas berjalannya perang diiyakan Kanselir Jerman Friedrich Merz. Ia secara terbuka ⁠telah menyatakan terima kasih atas apa yang dia katakan sebagai sinyal baru-baru ini dari Donald Trump bahwa dia siap untuk mengakhiri serangan terhadap Iran. “Saya sangat berterima kasih ‌bahwa presiden AS mengirimkan sinyal mengenai hal ini tadi malam bahwa dia siap untuk mengakhiri pertempuran,” kata Merz kepada ⁠wartawan menjelang pertemuan puncak ⁠Uni Eropa di Brussels. Dia menambahkan bahwa Eropa siap membantu menstabilkan Timur Tengah setelah pertempuran berhenti. Komentarnya muncul setelah Trump mengatakan di Truth Social bahwa Israel telah “menyerang dengan keras” ladang minyak Pars milik Iran, tanpa sepengetahuan Washington. Trump juga menjanjikan tidak akan ada lagi serangan yang dilakukan Israel di ladang minyak tersebut. Sementara, juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya IRGC mengatakan tanggapan Iran terhadap serangan terhadap infrastruktur energinya “belum selesai”. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita ISNA, juru bicara tersebut mengatakan bahwa jika serangan terhadap infrastruktur energi Iran terulang kembali, responsnya akan “jauh lebih dahsyat”. “Kami memperingatkan musuh bahwa Anda melakukan kesalahan besar dengan menyerang infrastruktur energi… Iran,” katanya. “Jika hal ini terulang lagi, serangan berikutnya terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai infrastruktur tersebut benar-benar hancur." AS dan Israel memulai serangan ilegal ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu terjadi saat perundingan antara AS dan Iran dilaporkan mulai mencapai titik temu. Sekitar dua ribu warga Iran meninggal akibat serangan tersebut. Sementara Iran membalas dengan menyerang aset AS di negara-negara Teluk dan menutup Selat Hormuz, jalur laut krusial distribusi migas dunia. Sebagai pembalasan atas serangan Israel terhadap ladang gas Pars, Iran memberikan tekanan pada beberapa negara Teluk dengan menyerang fasilitas energi mereka. Pada hari ke 20 perang, yang terkena serangan adalah Kota Industri Ras Laffan, Qatar. Kamis pagi, Qatar mengatakan rudal Iran menyerang Kota Industri Ras Laffan, fasilitas gas utama negara itu, menyebabkan “kerusakan signifikan”. Selain itu kilang Mina al-Ahmadi di Kuwait juga diserang. Kuwait Petroleum Corporation mengatakan kebakaran terjadi setelah sebuah drone menghantam unit operasional di kilang Mina al-Ahmadi, sekitar 50 km selatan Kota Kuwait. Insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Kilang Mina Abdullah di Kuwait juga dihantam oleh drone sehingga menyebabkan kebakaran. Di Uni Emirat Arab, fasilitas gas Habshan dan ladang minyak Bab dihantam. Pihak berwenang di UEA mengatakan mereka menanggapi insiden di fasilitas gas Habshan dan ladang minyak Bab yang disebabkan oleh jatuhnya puing-puing dari rudal yang dicegat. Sejauh ini tidak ada korban cedera yang dilaporkan. Kilang Samref di Arab Saudi juga kena serangan. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan sebuah pesawat tak berawak jatuh di kilang Samref milik Saudi Aramco di pelabuhan Yanbu. Kementerian menambahkan bahwa kerusakan sedang dinilai. Harga minyak dan gas terus meningkat setelah Iran menyerang fasilitas energi di Timur Tengah. Kamis pagi, harga minyak Brent berjangka mencapai 115 dolar AS per barel, tertinggi dalam lebih dari seminggu. Harga gas juga melonjak sebesar 30 persen. Harga juga kemungkinan akan naik secara signifikan jika Selat Hormuz tetap ditutup, kata pengamat pasar. “Patokan minyak mentah Timur Tengah seperti Oman dan Dubai telah melewati ambang batas 150 dolar AS, jadi 200 dolar AS sudah di depan mata, bahkan jika bukan untuk Brent dan West Texas Intermediate,” Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights, mengatakan kepada Aljazirah. “Seberapa jauh kenaikan harga minyak mentah dari sini hampir seluruhnya bergantung pada berapa lama lagi Selat Hormuz ditutup,” tambah Hari. Sementara, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, dalam sebuah opini di The Economist, memperingatkan bahwa “Amerika telah kehilangan kendali atas kebijakan luar negerinya sendiri”. Ia mengatakan bahwa sekutu Washington harus membantu melepaskannya “dari keterikatan yang tidak diinginkan ini”. “Dua kali dalam sembilan bulan, Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan nyata,” kata Albusaidi. “Sungguh mengejutkan, namun bukan kejutan ketika pada tanggal 28 Februari – hanya beberapa jam setelah perundingan terbaru dan paling substantif – Israel dan Amerika kembali melancarkan serangan militer yang melanggar hukum terhadap perdamaian yang sempat tampak mungkin terjadi.” Pembalasan Iran terhadap apa yang diklaimnya sebagai sasaran Amerika terhadap negara-negara tetangganya adalah “akibat yang tidak dapat dihindari, namun sangat disesalkan dan sama sekali tidak dapat diterima,” katanya. Bagi Iran, yang dihadapkan pada perang untuk “mengakhiri Republik Islam, ini mungkin satu-satunya pilihan rasional yang tersedia bagi para pemimpin Iran”. "Kesalahan perhitungan terbesar yang dilakukan pemerintah Amerika, tentu saja, adalah membiarkan dirinya terlibat dalam perang ini. Ini bukan perang Amerika, dan tidak ada kemungkinan Israel dan Amerika akan mendapatkan apa yang mereka inginkan dari perang ini," tambah Albusaidi.