Daftar Negara yang Terancam Bangkrut Akibat Perang Iran

GELORA.CO -Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu krisis energi global yang dampaknya akan merambat ke seluruh dunia. Meskipun demikian, tidak semua negara merasakan dampak yang sama. Dalam laporannya, Reuters menilai sejumlah ekonomi dinilai jauh lebih rentan, baik karena ketergantungan pada impor energi, kondisi fiskal, maupun stabilitas ekonominya yang sudah rapuh sejak awal. Di kelompok negara maju G7, Eropa menjadi kawasan yang paling sensitif terhadap guncangan ini. Krisis energi akibat konflik mengingatkan kembali pada dampak invasi Rusia ke Ukraina beberapa tahun lalu yang sempat mendorong inflasi melonjak tajam. Negara seperti Jerman menghadapi tekanan besar karena ekonominya sangat bergantung pada sektor industri yang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Meski pemerintah telah menyiapkan stimulus, ruang fiskal yang terbatas membuat kemampuan meredam dampak menjadi tidak leluasa. Italia menghadapi situasi serupa karena tingginya ketergantungan pada minyak dan gas dalam konsumsi energi. Sementara itu, Inggris berada dalam posisi sulit karena sistem kelistrikannya sangat bergantung pada gas. Kenaikan harga gas yang lebih cepat dibanding minyak berisiko mendorong inflasi dan memperpanjang periode suku bunga tinggi, di tengah tekanan pada anggaran negara dan meningkatnya pengangguran. Jepang juga termasuk yang paling rentan. Hampir seluruh impor minyaknya berasal dari Timur Tengah dan sebagian besar melewati Selat Hormuz-jalur vital yang terancam konflik. Kondisi ini memperparah tekanan inflasi yang sudah muncul akibat pelemahan yen dan tingginya ketergantungan pada impor bahan baku. Di luar negara maju, dampaknya bisa lebih berat. Kawasan Teluk yang selama ini diuntungkan dari ekspor energi justru menghadapi risiko kontraksi ekonomi jika jalur ekspor seperti Selat Hormuz terganggu. Negara-negara seperti Kuwait, Qatar, dan Bahrain bisa kehilangan akses ke pasar global, sehingga lonjakan harga minyak tidak otomatis menjadi keuntungan. Selain itu, aliran remitansi dari pekerja migran di kawasan tersebut juga berpotensi terganggu, padahal dana ini menjadi sumber penting bagi banyak negara berkembang. India menjadi salah satu ekonomi besar yang paling terpapar risiko. Negara ini mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya, dengan sebagian besar pasokan melewati wilayah konflik. Dampaknya sudah mulai terasa seperti pertumbuhan ekonomi dipangkas, nilai tukar Rupee melemah, dan lonjakan harga gas memicu kelangkaan energi di tingkat rumah tangga hingga usaha kecil. Turki menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Secara geografis berbatasan dengan Iran, negara ini berpotensi menghadapi arus pengungsi dan ketidakpastian geopolitik. Dari sisi ekonomi, bank sentral terpaksa menghentikan pelonggaran kebijakan moneter dan menguras cadangan devisa untuk menjaga stabilitas mata uang. Sementara itu, negara-negara dengan kondisi ekonomi yang sudah rapuh menghadapi risiko paling besar. Sri Lanka, misalnya, sampai harus menetapkan hari libur tambahan untuk menghemat energi dan membatasi konsumsi bahan bakar. Pakistan juga mengambil langkah darurat seperti menaikkan harga bensin dan memangkas penggunaan energi di sektor publik. Mesir menghadapi tekanan berlapis: selain kenaikan harga energi dan pangan, negara ini juga berisiko kehilangan pemasukan dari Terusan Suez dan sektor pariwisata. Pelemahan mata uang membuat beban utang luar negeri semakin berat Sumber: RMOL