Collector
Ahmad Tohari menulis Ronggeng Dukuh Paruk terinspirasi dari pengalaman traumatis menyaksikan pembantaian pasca-G30S di Banyumas. Ia menyampaikan simpati pada korban, bukan paham PKI, melalui cerita tokoh ronggeng Srintil. Novel ini diterbitkan dengan hati-hati pada era Orde Baru | Collector
Ahmad Tohari menulis Ronggeng Dukuh Paruk terinspirasi dari pengalaman traumatis menyaksikan pembantaian pasca-G30S di Banyumas. Ia menyampaikan simpati pada korban, bukan paham PKI, melalui cerita tokoh ronggeng Srintil. Novel ini diterbitkan dengan hati-hati pada era Orde Baru
Kompas.com

Ahmad Tohari menulis Ronggeng Dukuh Paruk terinspirasi dari pengalaman traumatis menyaksikan pembantaian pasca-G30S di Banyumas. Ia menyampaikan simpati pada korban, bukan paham PKI, melalui cerita tokoh ronggeng Srintil. Novel ini diterbitkan dengan hati-hati pada era Orde Baru

Ahmad Tohari menulis Ronggeng Dukuh Paruk terinspirasi dari pengalaman traumatis menyaksikan pembantaian pasca-G30S di Banyumas. Ia menyampaikan simpati pada korban, bukan paham PKI, melalui cerita tokoh ronggeng Srintil. Novel ini diterbitkan dengan hati-hati pada era Orde Baru

Go to News Site