GELORA NEWS
GELORA.CO - Pemerintah secara resmi membantah rumor yang menyebutkan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai 1 April 2026. Kabar yang sempat beredar luas di tengah masyarakat tersebut dipastikan tidak benar, dilansir dari Otomotif. Meskipun harga BBM subsidi maupun nonsubsidi dinyatakan tetap, isu tersebut sempat memicu kekhawatiran publik. Fokus utama kekhawatiran terletak pada potensi merangkaknya tarif angkutan umum yang dapat membebani daya beli. Plt. Sekretaris Jenderal DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan, menjelaskan bahwa operasional angkutan umum saat ini sebenarnya sudah mengalami tekanan hebat. Tekanan ini muncul akibat lonjakan harga komponen perawatan kendaraan, bahkan sebelum adanya isu penyesuaian harga BBM. "Inflasi terhadap harga suku cadang yang menjadi kebutuhan wajib guna mendukung operasional kendaraan angkutan umum sudah mulai terjadi," ujar pria yang akrab disapa Sani tersebut pada Selasa (31/3/2026). Data dari Organda menunjukkan bahwa inflasi pada harga suku cadang kendaraan telah berlangsung sejak tahun 2023. Kenaikan biaya komponen tersebut tercatat telah menyentuh angka hingga 15 persen. Dampak Terhadap Tarif dan Keselamatan Sani mengungkapkan bahwa kenaikan harga suku cadang menjadi beban besar bagi pelaku usaha transportasi. Namun, pihak pengusaha hingga kini belum mampu melakukan penyesuaian harga tiket atau biaya pengiriman barang secara signifikan. "Menjadi gong besar kenaikan harga spare part kendaraan namun kami tidak dapat melakukan penyesuaian harga tiket/biaya pengiriman barang yang lagi lagi akan sangat berdampak terhadap daya beli masyarakat," kata Sani. Sebagai asosiasi transportasi darat, Organda telah melayangkan surat resmi kepada Menteri Keuangan sejak akhir tahun 2025. Langkah ini diambil untuk menyampaikan kondisi riil di lapangan terkait beban biaya operasional yang terus meningkat. Faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga dinilai menambah ketidakpastian situasi ekonomi global saat ini. Sani menyebut pemerintah tengah menghadapi situasi sulit akibat konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda usai tersebut. Jika di masa mendatang pemerintah benar-benar menaikkan harga BBM, penyesuaian tarif angkutan umum menjadi langkah yang tidak terelakkan. Hal ini menjadi tantangan berat mengingat daya beli masyarakat yang belum tentu stabil. "Kami sangat tidak mungkin mengorbankan perawatan kendaraan kerena menyangkut keselamatan dalam pelayanan transportasi baik orang maupun barang kepada masyarakat," tutur Sani.
Go to News Site