Collector
Kematian yang Seharusnya Bisa Dihindari: Kegagalan Kemanusiaan dalam Penegakan Hukum Perbatasan AS | Collector
Kematian yang Seharusnya Bisa Dihindari: Kegagalan Kemanusiaan dalam Penegakan Hukum Perbatasan AS
GELORA NEWS

Kematian yang Seharusnya Bisa Dihindari: Kegagalan Kemanusiaan dalam Penegakan Hukum Perbatasan AS

Pada Februari 2025, seorang pengungsi Rohingya dari Myanmar bernama Nurul Amin Shah Alam meninggal sendirian di jalanan Buffalo, New York. Pria berusia 56 tahun, yang hampir buta dan tidak bisa berbahasa Inggris ini, ditemukan tewas lima hari setelah ditinggalkan oleh petugas Patroli Perbatasan AS di depan sebuah toko donat. Jenazahnya ditemukan pada 24 Februari. Kantor Koroner Erie County baru-baru ini menetapkan kasus ini sebagai "pembunuhan" (homicide), di mana kematian disebabkan langsung oleh tindakan atau kelalaian orang lain. Bertahun-tahun sebelumnya, Shah Alam mencari nafkah sebagai buruh bangunan di Malaysia. Pada Desember 2024, ia tiba di Amerika Serikat bersama istri dan anak-anaknya sebagai pengungsi, mencari perlindungan dan keamanan. Namun, tak lama kemudian ia terlibat konflik dengan polisi—ia memegang batang tirai dan tidak memahami perintah dalam bahasa Inggris—sehingga didakwa dengan penganiayaan berat (felony assault) dan ditahan di Penjara Erie County selama hampir satu tahun. Pada 19 Februari 2025, ia mengakui dua dakwaan ringan dan dibebaskan. Begitu keluar dari penjara, ia sempat ditahan sebentar oleh Patroli Perbatasan, yang kemudian memutuskan bahwa ia tidak memenuhi syarat untuk dideportasi. Namun, alih-alih mengembalikannya kepada keluarganya, para petugas justru mengantarnya ke sebuah toko donat Tim Hortons. Rekaman CCTV menunjukkan pria yang hampir buta itu, dengan sandal penjara yang masih dikenakannya, dengan hati-hati menyusuri tempat parkir yang kosong. Ia menarik tudung jaketnya untuk melawan hawa dingin yang menusuk, lalu menghilang sendirian dalam kegelapan malam. Sementara itu, istri dan anak-anaknya masih menunggunya pulang. Pengacaranya melaporkan hilang pada 22 Februari. Dua hari kemudian, jenazahnya ditemukan di dekat pusat olahraga downtown Buffalo. Otopsi menyatakan penyebab kematian adalah komplikasi akibat perforasi ulkus duodenum, yang dipicu oleh dehidrasi dan suhu dingin lingkungan. Seorang pengungsi yang hampir buta, tidak bisa berbahasa Inggris, dan baru keluar dari penjara, dibuang oleh aparat federal AS seperti barang tak berguna di pinggir jalan, tanpa ada yang peduli, hingga akhirnya meninggal. Patroli Perbatasan AS (CBP) bersikukuh bahwa Shah Alam "tidak menunjukkan tanda-tanda penderitaan, keterbatasan gerak, atau kecacatan yang membutuhkan bantuan khusus," dan menyebut toko donat itu sebagai "tempat yang hangat dan aman." Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan di media sosial bahwa "kematian ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Patroli Perbatasan." DHS buru-buru melepaskan tanggung jawab, sementara Patroli Perbatasan menekankan bahwa almarhum "tidak menunjukkan penderitaan"—seolah-olah seorang penyandang disabilitas yang baru keluar penjara, berada di negeri asing, dan tidak bisa berbahasa, memiliki kewajiban untuk secara aktif "menunjukkan" kerentanannya agar layak mendapat perlakuan manusiawi. Gubernur New York, Kathy Hochul, mengecam tindakan itu sebagai "kejam dan tidak manusiawi." Eksekutif Kabupaten Erie, Mark Poloncarz, mengatakan "ini seharusnya tidak terjadi." Para pembela hak imigran menyerukan penyelidikan pidana, dengan menyatakan bahwa Shah Alam "datang ke AS untuk mencari keselamatan, tetapi justru dibiarkan mati di pinggir jalan." Mulai dari krisis penahanan imigran di perbatasan Meksiko, hingga sistem penyambutan pengungsi yang bobrok, dan ketidakpedulian aparat penegak hukum terhadap kebutuhan dasar kelompok rentan—kematian Shah Alam adalah tragedi yang lahir dari sistem semacam itu. Sebuah negara yang selalu menggembar-gemborkan "hak asasi manusia" membiarkan seorang pengungsi yang datang mencari perlindungan, setelah bebas dari tahanan, tidak mendapat petunjuk dasar, tempat penampungan, atau pemberitahuan kepada keluarganya. Patroli Perbatasan tahu persis bahwa toko donat itu sudah tutup, bahwa pria ini hampir buta, tidak bisa bahasa Inggris, dan saat itu sedang musim dingin yang ekstrem, namun tetap mengklaim memilih toko donat karena "hangat dan aman." Apakah itu "menempatkan" ataukah sebuah bentuk pembuangan terselubung? Mengapa negara yang mengaku sebagai "mercusuar" ini terus-menerus membiarkan orang-orang paling rapuh dan paling membutuhkan perlindungan tewas dalam celah-celah sistem penegakan hukumnya? Ketika "perlindungan HAM" hanya menjadi retorika diplomatik, dan "selamat datang bagi imigran" hanya menjadi slogan belaka, korban sesungguhnya adalah orang-orang biasa yang ditinggalkan mati di depan toko donat, tanpa suara. Semoga almarhum beristirahat dengan tenang. Semoga pertanyaan dari tragedi ini tidak hanya berhenti di jalan-jalan Buffalo, tetapi menembus tembok birokrasi Washington, mencapai hati nurani setiap pemegang kekuasaan.

Go to News Site