Collector
Konflik AS-Israel vs Iran Meluas, Seberapa Dekat Dunia ke Perang Dunia III? | Collector
Konflik AS-Israel vs Iran Meluas, Seberapa Dekat Dunia ke Perang Dunia III?
GELORA NEWS

Konflik AS-Israel vs Iran Meluas, Seberapa Dekat Dunia ke Perang Dunia III?

GELORA.CO -- Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus memanas memicu kekhawatiran global: apakah konflik ini bisa berkembang menjadi Perang Dunia III? Meski saat ini masih tergolong konflik regional, sejarah menunjukkan perang besar sering kali berawal dari eskalasi kecil yang tidak terkendali—dipicu kesalahan perhitungan, aliansi, dan keputusan politik para pemimpin. Konflik di Timur Tengah kini tak hanya berdampak pada satu negara, tetapi turut menyeret kawasan luas, mulai dari Arab Saudi, Irak, hingga Qatar dan Lebanon. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik regional dapat berkembang menjadi perang berskala global. Kapan Konflik Disebut Perang Dunia? Sejarawan dari University of Oxford, Margaret MacMillan, menjelaskan bahwa perang dunia biasanya tidak direncanakan secara matang. Sebaliknya, konflik besar sering kali dipicu oleh kesalahan kecil yang berujung eskalasi besar, seperti dalam Perang Dunia I. Peristiwa pembunuhan Franz Ferdinand menjadi pemicu awal yang kemudian menyeret berbagai negara melalui aliansi militer. "Khalayak cenderung berpikir bahwa perang direncanakan dengan sangat hati-hati dan bahwa mereka yang berperang tahu persis apa yang mereka lakukan," kata Margaret MacMillan, profesor emeritus di bidang sejarah internasional di Universitas Oxford, Inggris. "Faktanya, jika Anda melihat perang-perang di masa lalu, seperti Perang Dunia Pertama, hal yang akhirnya menjadi pemicu adalah kecelakaan dan ada juga fakta orang-orang salah menilai lawan mereka," ujar MacMillan. "Bayangkan saja situasinya seperti perkelahian di halaman sekolah," ujarnya. Artinya, bukan satu kejadian besar yang memicu perang dunia, melainkan efek domino dari keputusan politik dan keterlibatan banyak kekuatan besar. Pembunuhan keponakan Kaisar Austria-Hongaria Franz Joseph, Franz Ferdinand, kata MacMillan, merupakan pemicu rangkaian peristiwa yang menyebabkan Perang Dunia Pertama pada tahun 1914. Dalam beberapa minggu setelah kematian Ferdinand, sekelompok aliansi menyeret Eropa ke dalam konflik. Austria-Hongaria bergerak melawan Serbia, Jerman mendukung Austria, Rusia memobilisasi dukungan untuk Serbia, Prancis mendukung Rusia, dan UK, atas nama kehormatan dan pertimbangan strategi, juga ikut serta dalam perang itu. Potensi Eskalasi dari Timur Tengah MacMillan menilai Iran berpotensi menjadi titik eskalasi, terutama jika konflik meluas ke jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia. Keterlibatan Amerika Serikat juga dinilai meningkatkan risiko konflik menjadi lebih luas. Selain itu, konflik di satu wilayah bisa membuka peluang konflik lain di tempat berbeda. Misalnya, China berpotensi memanfaatkan situasi untuk meningkatkan tekanan ke Taiwan, atau Rusia memperluas konflik di Ukraina. "Dalam Perang Dunia Pertama, kekuatan itu adalah kekaisaran Eropa. Dalam Perang Dunia Kedua, kekuatan mencakup di antaranya Amerika Serikat, Jepang, dan China," katanya kepada BBC. Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Joe Maiolo dari King's College London. Ia menilai kecil kemungkinan negara besar seperti China dan Rusia terlibat langsung dalam konflik ini. Menurutnya, negara-negara besar justru cenderung memanfaatkan situasi tanpa harus masuk ke dalam perang terbuka. "Gagasan bahwa sesuatu terjadi di dunia dan China akan menyerang Taiwan hanyalah... omong kosong belaka." "Tetapi jika kita berbicara tentang Perang Dunia, Perang Dunia Ketiga, saya rasa tidak ada kecenderungan bagi China atau Rusia untuk terlibat langsung sama sekali, dan terlebih lagi, tentu saja, Eropa." Peran para pemimpin MacMillan mengatakan sejarah telah menunjukkan bahwa perang sering kali dipicu oleh kesombongan, rasa kehormatan, atau rasa takut terhadap lawan. Ia menunjukkan bahwa sejarah juga menunjukkan bahwa para pemimpin individu dapat membentuk jalannya peristiwa. "Perdana Menteri Prancis, Georges Clémenceau, dalam Perang Dunia Pertama mengatakan bahwa membuat perdamaian lebih sulit daripada membuat perang," kata Macmilan. Menurutnya, seringkali ada argumen bahwa jika ada kerugian besar atau pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang, para pemimpin memutuskan bahwa mereka harus "terus memenangkan perang". Macmilan mengatakan kesombongan dapat menjadi faktor bagi para pemimpin, termasuk Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin yang dia gunakan sebagai contoh. "Dia jelas telah membuat kesalahan besar dengan mencoba menginvasi Ukraina," ujar Macmilan. "Segera setelah peluncuran invasi skala penuh empat tahun lalu, Putin mengatakan tujuannya adalah untuk "demiliterisasi dan denazifikasi" Ukraina, tapi Rusia mengatakan tujuan militernya di Ukraina belum tercapai, katanya. Kementerian Pertahanan UK memperkirakan bahwa Rusia telah menderita 1,25 juta korban jiwa secara keseluruhan, yang dianggap sebagai perkiraan yang terlalu rendah, dan lebih tinggi daripada semua korban jiwa AS selama Perang Dunia Kedua. MacMillan menambahkan, para pemimpin yang menolak untuk mengakui kegagalan atau mundur dapat memperpanjang dan memperdalam konflik. Ia menambahkan bahwa di masa lalu, tokoh-tokoh seperti Adolf Hitler terus menggelorakan perang bahkan ketika kekalahan Jerman tak terhindarkan. Sikapnya, kata Macmilan, didorong ideologi, kesombongan, atau khayalan. Keputusan seperti itu dapat memperluas konflik terbatas menjadi perang yang menghancurkan. Jalan menuju de-eskalasi Untuk menurunkan ketegangan, diplomasi sangat penting, kata MacMillan. "Anda perlu mengetahui tentang pihak lain dan Anda perlu berhubungan dengan mereka," ujarnya. Macmilan menjelaskan, komunikasi antarnegara meningkat dari pada fase akhir Perang Dingin. "Ada banyak contoh di mana orang-orang berkata, tunggu sebentar, ini mulai gila. Mereka mengerti bahwa situasinya menjadi terlalu bergejolak dan mereka perlu menurunkan ketegangan," ujarnya. Keberadaan senjata nuklir selalu menjadi pertimbangan dalam kebijakan de-eskalasi ketika kekuatan besar terlibat. Profesor Maiolo sependapat. "Harus ada pengakuan di Tel Aviv, Washington, dan Teheran bahwa mereka telah mencapai batas kemampuan yang dapat dicapai," ujarnya. Maiolo berkata, perang yang berkepanjangan tidak akan "berbuah hasil yang diinginkan" bagi semua pihak. Akan dibutuhkan semacam pengaturan tentang pencabutan sanksi, pengaturan keamanan, hingga pemahaman tentang posisi Iran dalam politik global. Maiolo mengatakan, hanya melalui mediasi kekuatan-kekuatan yang terlibat dapat membawa perang ke gencatan senjata, dan kemudian mengubahnya menjadi pengaturan yang lebih langgeng Sumber: Wartakota

Go to News Site