REPUBLIK MERDEKA
SETIAP tanggal 21 April, ruang publik kita seragam. Kebaya digital, kutipan bijak, dan ucapan Selamat Hari Kartini memenuhi linimasa.Perayaan ini tampak rapi, nyaris tanpa cela. Tapi justru di situlah masalahnya: terlalu rapi untuk disebut refleksi, terlalu ringan untuk disebut penghormatan.Saya memilih tidak ikut mengucapkan.Bukan karena menolak Raden Ajeng Kartini, melainkan karena cara kita mengingatnya telah bergeser dari gagasan menjadi dekorasi.Kartini hari ini lebih sering hadir sebagai s.. Baca selengkapnya di https://rmol.id/publika/read/2026/04/22/704629/kartini-bukan-sekadar-caption
Go to News Site