Collector
"Said Didu Cs Bukan Pengikut Fanatis Ulama" | Collector
GELORA NEWS

"Said Didu Cs Bukan Pengikut Fanatis Ulama"

Penulis: Damai Hari Lubis Ketua Korlabi Said Didu-Roy-Refly Cs (Ikrar N. Bakti dan pastinya ekonom Antoni B serta A. Samad eks Ketua KPK bukan bagian dari "kelompok politik identitas" (Barisan ulama istiqomah). Said, Roy dan Refly ketiganya memang sesekali ke sosok ulama terkenal sebatas kunjungan dalam rangka misi politik praktis mereka. Terlebih ketiganya Said, Roy, Refly dan Ikrar eks dubes Tunisia juga Samad merupakan eks pejabat publik di era SBY dan di era Jokowi. Bahkan bisa jadi tudingan publik benar ? Refly (eks Komisaris Pelindo), ada "sakit hati"  kepada Jokowi yang kausalitas daripada Erick yang tetap bertengger kokoh di 1 dekade Jokowi dan di era Prabowo ? Konklusinya "mungkinkah" Didu dan 3 sohibnya sibuk nyinyir dampak Eggi dan DHL memperoleh SP3 hal yang mahfum, karena 2 tokoh aktivis tersebut termasuk handalan barisan ulama lalu terlepas dari "jebakan kera" ? Said Cs acuh terkait posisi hukum substansial, bahwa kedua tokoh aktivis ulama dimaksud memang tidak layak dijadikan Tersangka. Selebihnya ada dinamika temuan politik transisi kekuasaan saat ini yang berdampak bagi "para antek politikus fragmatis", diantaranya mencoba berupaya adventurer, namun sulit ke radar kekuasaan, sehingga barisan avonturir sekuleris berkolaborasi dengan 'jaket merah' eks Puan-Tuan Penguasa Partai '. Historis, bahwa basis merah memang klasik sejak 98 (era reformasi) tidak menyukai Prabowo, sekaligus untuk menghantam Jokowi selain dicap pengkhianat juga diketahui tidak dekat dengah barisan ulama "surban putih". Sepertinya kini para avonturir sudah merasa bakal gagal mencapai misi target 'kue pembangunan' pasca ditinggalkan oleh Eggi Sudjana dan DHL. Para avonturir semakin melemah, dan Jokowi yang riil memiliki basis kekuatan berikut "sanderawan/wati" nyata amat pahami peta kekuatan saat ini masih tetap ketergantungan kepada dirinya dan tentu logika politis semakin memperkuat diri bersama penguasa riil yang didampingi anak biologisnya. Dan avonturir yang sebelumnya antusias agar riak-riak kecil menjadi ombak besar yang berawal dari tuduhan publik terkait ijazah Jokowi, nyata selangkah lagi bakal pupus. Diprediksi tidak lama lagi perkara 'icon' satu dekade yang dimulai oleh TPUA (Eggi dan DHL) akan naik ke meja hijau, karena belum lama ada "red bib viral" dari mantan 10 tahun Presiden "sudah setahun laporan saya buat" Disisi garda terdepan R-1 ada Don Dasco Tokoh yang sangat berpengaruh di Senayan juga petinggi pada sebuah identitas advokat yang anggotanya nyata terbanyak di tanah air melebih jumlah organisasi advokat yang dikomandani oleh Otto, dan puluhan ribu para advokat basis Dasco dikenal sebagai advokat pejuang dan "radikal", tentu pada saatnya akan full mendukung koalisi penguasa kontemporer dan "shadow leader". Lalu Para Ulama 'sorban putih' dan barisan remain loyal (istiqomah) tetap pada etika teologis zona amar makruf nahi munkar bukan politik oposisi, mereka "tidak iseng kepada para penguasa (ulilamr)" cukup mengamati, jika penguasa stayed pada rel yang benar, dan mereka  konsisten menolak 'zona politik pelangi' serta tidak terpengaruh dengan geo politik yang ada, kecuali ada faktor yang menerbitkan ketersinggungan di sektor teologi historis dan teologi praktis termasuk ketika lahir dinamika dengan fenomena para pejabat publik - korporasi justru transparansi koruptif. Penutup dan kesimpulan, ketika para maling transparansi dengan pola gotong royong (merajalela) dan aparat tidak efektif (weak law enforcement), maka disitulah ulama bakal hadir di jalan dan diberbagai mimbar !

Go to News Site