GELORA NEWS
GELORA.CO - Perang Dunia II sering digambarkan sebagai masa keberanian maskulin, di mana tentara pria Australia bertempur di medan yang keras seperti Timur Tengah, Afrika Utara, dan Papua Nugini. Namun di balik citra heroik itu, ada realitas yang jarang dibahas: hasrat dan praktik seks sesama jenis yang cukup meluas di kalangan pasukan. Sebuah artikel di Australian Army Journal (Volume 10, Nomor 3, Edisi Budaya) menyebut Tentara Australia saat itu sebagai “a homosexual institution” – sebuah institusi homoseksual – menurut pengamatan seniman perang Donald Friend. Mitos “Tidak Ada Homo di Perang” Pada tahun 1982, Bruce Ruxton, Presiden Returned and Services League Victoria, menolak kehadiran kelompok Gay Ex-servicemen’s Association dalam upacara Anzac Day. Ia menyatakan, “Saya tidak ingat ada satu pun poofter (homo) dari Perang Dunia II.” Pendapat serupa datang dari rekan-rekannya yang mengklaim pasukan mereka “sepenuhnya heteroseksual”. Sejarah resmi Angkatan Darat Australia bahkan menyatakan bahwa homoseksualitas “tidak signifikan” dan tidak berkontribusi pada upaya perang total. Padahal, arsip militer, catatan harian, memoar, dan surat-surat prajurit justru membuktikan sebaliknya. Hasrat sesama jenis bukanlah hal langka, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari di lingkungan tentara yang sepenuhnya laki-laki, terisolasi dari perempuan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Lingkungan yang Memungkinkan: Segregasi dan Ketidakpastian Perang Tentara Australia di WWII hidup dalam kondisi all-male yang ekstrem. Para prajurit ditempatkan jauh dari rumah, tanpa akses terhadap perempuan, dan di bawah tekanan perang yang konstan. Kondisi ini menciptakan ruang bagi apa yang disebut “homoseksualitas situasional” – pria heteroseksual yang biasanya tidak melakukan hubungan sesama jenis di kehidupan sipil, tapi melakukannya karena “tidak ada perempuan”. Seorang veteran bernama John O’Donnell menulis dalam memoarnya bahwa banyak prajurit berkata: “Kami bukan camp (gay), kami hanya melakukannya karena tidak ada perempuan. Kalau kamu setuju, tidak ada yang jadi poofter, semua terlindungi.” Praktik ini tersebar di kamp pelatihan, markas di Darwin, hingga garis depan di Papua Nugini. Di Darwin, setelah serangan udara, ada “beat” (tempat cruising) sepanjang jalan utama di mana kontak mata dan sapaan sederhana sudah cukup untuk menemukan pasangan. Subkultur “Kamp” dan Kehidupan yang Penuh Kenikmatan Di tengah risiko, sekelompok kecil pria gay (sering disebut “kamp men” atau pria effeminate) berhasil membangun subkultur yang penuh kegembiraan. Mereka dikenal dengan nama samaran seperti “Phyllis” (dengan alis dicukur, suara camp, dan gerak tubuh feminin) atau “Mata Hari” yang dikabarkan berhubungan seks dengan sekitar 300 pria. Catatan harian Donald Friend menggambarkan kehidupan ini dengan detail: pesta pantai, piknik, dan pertemuan di truk-truk militer. Bukan hanya pria gay yang terlibat. Banyak prajurit “straight” ikut serta dalam hubungan sesama jenis, termasuk seks kelompok di pantai atau truk. Pseudonim “John” dari RAAF (Angkatan Udara Kerajaan Australia) memperkirakan ada ratusan pria gay di Northern Territory saja, dan di unit kecilnya saja ia mengenal 14 orang gay di antara 200 prajurit. Respons Militer: Antara Pengampunan dan Hukuman Pimpinan militer menyadari fenomena ini. Pada 1943, investigasi Amerika Serikat di Papua Nugini menemukan tentara Australia yang “bermain peran perempuan” dalam hubungan homoseksual. Markas Besar Angkatan Darat Australia kemudian memerintahkan laporan dan tindakan. Hukuman resmi cukup berat: - Sodomi (Pasal 41 Army Act): hukuman penjara seumur hidup. - Perilaku memalukan (Pasal 18(5)): hingga 2 tahun penjara. - Tindakan merusak disiplin (Pasal 40): hingga 2 tahun. Salah satu contoh dramatis adalah upacara cashiering (pemecatan kehormatan): seorang perwira yang dihukum karena buggery diarak di hadapan pasukan, pangkatnya dicabut di depan umum, dan genderang dipukul. Korban sering pingsan karena malu. Namun, dalam praktiknya, komandan lebih memilih pemecatan medis daripada pengadilan militer. Mayor Jenderal Sir Roy Burston merekomendasikan pemeriksaan psikiater bagi mereka yang “kecanduan praktik homoseksual”. Jika terbukti, mereka dibebastugaskan tanpa hukuman pidana. Tujuannya menghindari publisitas dan mencegah prajurit sengaja “bermain homo” hanya untuk lolos dari tugas di daerah terpencil. Dampak terhadap Moral dan Disiplin Meski ada bullying terhadap pria effeminate (disebut “queen” atau “sissy”), banyak komandan melaporkan bahwa kasus homoseksualitas tidak terlalu mengganggu disiplin. Bahkan, subkultur ini kadang meningkatkan semangat karena memberikan hiburan dan keintiman di tengah kengerian perang. Novel The Rats in New Guinea karya Lawson Glassop menggambarkan ketakutan akan “queen” di satu seksi, tapi juga menunjukkan toleransi diam-diam selama tidak mengganggu tugas. Relevansi Hari Ini Artikel ini mengingatkan bahwa sejarah militer Australia bukanlah cerita hitam-putih tentang maskulinitas heteroseksual semata. Hasrat sesama jenis adalah bagian nyata dari pengalaman perang – baik sebagai sumber kesenangan, ketakutan, maupun strategi bertahan hidup. Di era modern, Angkatan Darat Australia telah berubah: mendukung jaringan LGBTI, ikut pawai Mardi Gras, dan mengakui identitas transgender di kalangan personel. Mitos “tidak ada homo di Perang Dunia II” akhirnya runtuh berkat catatan-catatan pribadi dan arsip yang kini terbuka. Seperti kata seorang dokter veteran yang membalas surat Ruxton: homoseksualitas memang ada, meski dalam jumlah kecil, dan mereka juga berperang untuk negara. Sumber utama artikel ini diolah dari penelitian yang dipublikasikan oleh Australian Army Research Centre dalam Australian Army Journal . Fenomena ini bukan hanya milik Australia; pola serupa ditemukan di banyak angkatan bersenjata sekutu saat itu. Perang tidak hanya membentuk pahlawan, tapi juga mengungkap keragaman manusia yang selama ini disembunyikan.
Go to News Site