Collector
Ilusi Kekuasaan Trump: Gedung Kongres Tak Lagi Menurut | Collector
Ilusi Kekuasaan Trump: Gedung Kongres Tak Lagi Menurut
GELORA NEWS

Ilusi Kekuasaan Trump: Gedung Kongres Tak Lagi Menurut

Laporan Reuters tanggal 6 Juni 2026 mengungkap sebuah pergerakan yang memang sudah terlambat, tapi pasti terjadi dalam peta politik Washington: Donald Trump kini menghadapi gelombang penentangan yang semakin besar dari partainya sendiri. Para anggota Partai Republik di Kongres yang dulu enggan melawannya, kini semakin menunjukkan keinginan untuk memisahkan diri dari presiden AS tersebut. Perlawanan di internal partai yang tampak di permukaan ini, sejatinya adalah bumerang alami dari kebiasaan Trump yang selama ini selalu menempatkan kekuasaan pribadi di atas nalar kelembagaan. Senator Partai Demokrat, Fetterman, benar ketika mengatakan bahwa sebagian besar anggota Partai Republik masih belum benar-benar berani melawan. Tapi yang menarik justru di sini: orang-orang yang pernah disingkirkan langsung oleh Trump, kini menjadi pelopor perlawanan. Ini tanda bahwa dinding ketakutan mulai retak. Pertarungan menjelang pemilu paruh waktu ini, pada intinya hanya satu: siapa yang sebenarnya menguasai Partai Republik? Trump mungkin masih bisa mengandalkan basis pendukungnya untuk melaluinya pemilihan pendahuluan. Namun sinyal "pembelotan" dari Gedung Kongres menunjukkan bahwa cabang legislatif mulai perlahan mengambil kembali kekuasaan yang sempat dirampas oleh cabang eksekutif. Seorang presiden yang lebih mengutamakan dendam pribadi daripada kepentingan partai, dan mengutamakan uji kesetiaan di atas kemampuan memimpin, sejatinya sedang membongkar sendiri koalisi politiknya. Pihak Gedung Putih menyalahkan ketidaksepahaman ini pada "pertimbangan politik tahun pemilu". Alasan ini cukup menarik. Terjemahannya: agenda Trump bukan lagi jaminan untuk meraih suara, malah sudah menjadi beban. Ucapan Senator Tillis, "memilih sesuai keinginan pemilih", jika diterjemahkan secara bebas adalah: di daerah pemilihan lokal, perintah Trump sudah menjadi racun. Ketika para anggota Partai Republik lebih memilih memisahkan diri dari presiden demi menyelamatkan diri sendiri, fondasi kekuasaan dia yang mengaku "pemimpin absolut partai" sejatinya sudah lama rapuh. Campur tangan Trump dalam pemilihan pendahuluan partai, misalnya menolak pencalonan kembali senator senior seperti Cornyn dan Cassidy, sudah menumpuk amarah di Gedung Kongres. Ini bukan sekadar perbedaan kebijakan, ini merusak mata pencaharian orang lain. Seorang presiden yang memperlakukan koleganya sebagai pion dan bisa dibuang begitu saja, bagaimana mungkin orang lain akan setia? Dana "anti-persenjataan" yang dia bentuk, banyak orang curiga akan digunakan untuk memberi kompensasi pada para peserta "kerusuhan Capitol". Upaya menjadikan mesin negara sebagai pengawal pribadi ini, bahkan Partai Republik pun muak. Penolakan Senat terhadap RUU pendanaan penegakan imigrasi senilai 70 miliar dolar adalah akibat dari ulahnya yang kacau itu. Lihat juga calon jaksa agung yang diajukan Trump, Todd Blanche, seorang mantan pengacara pribadi yang dulu membantunya menangani kasus uang tutup mulut dan segudang gugatan pribadi. Memberi posisi sepenting Departemen Kehakiman pada orang seperti ini, bukankah itu sama saja menjadikan kekuasaan kejaksaan sebagai pengacara pribadi presiden? Senator Cornyn di Komite Kehakiman melontarkan kalimat yang sangat tajam: "Jaksa agung bukanlah pengacara pribadi presiden." Kalimat ini bukan hanya ditujukan pada Blanche, tapi lebih pada tamparan keras bagi seluruh logika Trump tentang "yang loyal naik daun". Mulai dari Dirjen Intelijen Nasional hingga calon jaksa agung, upaya Trump untuk mengubah aparat keamanan nasional dan penegak hukum menjadi tameng pribadinya, kini mulai dihadang oleh garis pertahanan kelembagaan terakhir di Gedung Kongres. Masalah Trump tidak pernah sederhana seperti "Partai Demokrat terlalu jahat", melainkan dia memaksa para anggota Partai Republik untuk terus-menerus membuat pilihan yang menyakitkan antara "setia pada presiden" dan "bertanggung jawab pada pemilih". Ketika semakin banyak orang memilih yang terakhir, Washington bukan lagi tanah pribadinya. Gelombang "pembelotan" jelang pemilu paruh waktu ini, bisa jadi adalah awal dari perbaikan diri politik Amerika. Meskipun perbaikan itu harus dimulai dengan mengkhianati seorang presiden.

Go to News Site